Diabetes Tipe II, Cara Mengendalikan

  • Olahraga teratur membantu tubuh menggunakan insulin lebih efisien. Jika tubuhmu masih memproduksi insulin namun tidak cukup, seperti pada diabetes tipe II, olahraga yang baik dan teratur dapat membantu insulin yg terbatas itu untuk direntangkan lebih jauh pemakaiannya.
  • Diet yang tinggi kandungan lemak dan kelebihan berat badan atau obesitas adalah penyebab utama diabetes tipe II, membuat pemakaian insulin didalam tubuh kurang efektif. Jadi, mengurangi jumlah lemak didalam diet dan didalam tubuh dapat sangat membantu mengurangi masalah diabetes
  • Pada diabetes tipe II, dimana sel betanya masih memperoduksi insulin secara terbatas dan tidak mencukupi kebutuhan. Jadi mereka harus memakan pil secara teratur agar tetap dapat mengendalikan penyakit diabetesnya. Pil-pil ini yang disebut “alat hipoglikenik oral”
  • Obat-obat ini dipakai sebagai tambahan kepada diet dan olaharaga
  • Jika seseorang menggunakan obat oral untuk mengendalikan diabetesnya, ia harus tahu:
    • beberapa dari obat diabetes sesungguhnya dapat menimbulkan reaksi berupa hipoglikemia(gula darah sangat rendah) jika obat itu dipakai bersama alkohol, obat yg mengandung anabalic steroid, atau bereaksi kepada obat diabetes termasuk beberapa golongan steroid, obat penurun tekanan darah, obat pengendali epilepsi, obat penyakit gondok, hormon estrogen, dll
    • Banyak yang menyebabkan mual-mual
    • Wanita hamil tidak boleh memakan obat diabetes SEBAB obat itu menyeberangi plasenta dan dapat mempengaruhi bayi yg belum lahir. Dan sebaliknya, insulin tidak dapat menyeberangi plasenta
    • Apabila wanita hamil, ia harus memberitahukan pada dokternya, dan mengubah takaran insulin yang sesuai
    • Kalau dalam situasi stress/ infeksi bisa diganti insulin untuk sementara waktu

    Sumber: Diabetes, Terapi dan Pencegahannya, Marilyn Johnson

    OBAT HIPOGLIKEMIA ORAL
    SULFONILUREAS
    Dapat menyebabkan bertambahnya berat badan pd beberapa orang
    TOLBUTAMIDES/ ORINASE
    Barangkali yg teraman buat pasien yg sudah tua yg hidup sendirian oleh karena resiko hipoglikemia yg rendah
    TOLAZAMIDE
    Menyebabkan kurang beban pada ginjal, jadi mungkin baik untuk penderita diabetes dengan masalah ginjal
    CHLORPROPAMIDE
    Mempunyai efek yg lebih lama, tidak dianjurkan utk orang yg sudah tua, karena kemungkinan reaksi hipoglikemia
    GLIBENCLAMIDE
    Mempunyai efek yg lebih lama, tidak dianjurkan utk orang yg sudah tua, karena kemungkinan reaksi hipoglikemia
    BIGUANIDES
    Tidak boleh dipakai utk penderita yg memiliki masalh ginjal dan hati
    Dapat menghilangkan selera makan, mual, muntah, diareBisa berguna utk penderita diabetes tipe II yg kelebihan berat badan

     

    METFORMIN

Tanda dan Gejala Diabetes atau Kencing Manis

Diabetes. Hmm, kalau membicarakan penyakit yang satu ini reaksi banyak orang adalahūüėĮ Oh no! Karena diseluruh dunia, termasuk indonesia¬† penderita Diabetes sangatlah banyak. Ayahku juga termasuk penderita diabetesūüė• dan aku benar-benar berharap aku tidak menjadi penderita diabetes juga¬† :(¬† . Ada berbagai macam tipe diabetes,¬† berikut dengan ke khasannya masing-masing.

TERGANTUNG INSULIN TIPE I TIDAK TERGANTUNG INSULIN TIPE II
Biasanya terjadi dengan tiba-tiba Biasanya terjadi secara diam-diam dan pelan-pelan
Dahaga yg sangat Sebagian/seluruhnya tanda/gejala sseperti dgn diabetes tipe 1
Sering buang air kecil Gatal-gatal, terutama pd kemaluan
Lapar yang sangat Luka/goresan lambat smebuh
Berkurang berat badan Rasa nyeri, pegal, dan rasa ditusuk-tusuk pada tungkai dan kaki
Mudah jengkel Penglihatan kabur
Kurang tenaga Mual dan muntah
Lemah dan lesu
Semut mengerubungi air kencing

Banyak orang mulai mengidap diabetes tipe II sekitar 9 sampai 12 tahun sebelum didiagnosaūüėĮ Mungkinkah Anda salah satu diantaranya? Mengetahui sekarang dapat menolong mencegah masalah serius di kemudian hari. Jika sangsi, pergi ke dokter, cari tahu.

Sumber: Diabetes, Terapi dan Pencegahannya, Marilyn Johnson

PANU aka Ptiariasis versikolor

  • termasuk dermato-mikosis superficialis
  • penyebabnya : Malassezia furfur atau Pityrosporum orbiculare
  • gejalanya bersifat ringan, menahun, tanpa keluhan gatal
  • penyakit kronis, asimptomatis, biasanya penderita sering mengeluh bercak-bercak hipopigmentasi pasca peradangan yg memerlukan waktu cukup lama untuk pulih walau penyakitnya telah sembuh; bercak hipopigmentasi ini muncul karena sifat toksik jamur tehadap pembentuk melanin dan juga adanya asam azelat yg berkompetisi dalam pembentukan melanin dari tirosin, bisa diatasi dengan pembeiran obat yg sensitif thd sinar matahari
  • Gambaran Klinis :
  1. bercak-bercak bisa teratur/tdk teratur ; berbatas tegas, tapi kadang bisa difus
  2. warnanya putih, hitam, coklat merah, atau kuning coklat
  3. diatas lesi terdapat skuama halus
  4. lesi tersering ditemukan didaerah badan berlemak
  • Pemeriksaan :
  1. PX sediaan langsung larutan KOH 20%
  2. akan terlihat elemn jamur dnegan konfigurasi hifa pendek + spora berkelompok  (meatball and sphagetti configuration
  3. lesi-lesi kulitnya berfluoresensi warna kuning keemasan bila dilihat dalam kamar gelap dibawah lampu WOOD
  • Pengobatan
  1. infeksi muncul bila ada faktor predisposisi, seperti: kelembapan kulit, kulit yg berlemak, keadaan epidermal cell turn over rate yg lambat, spt sakit kronis/pengobatan kortikosteroid, amlnutrisi, genetik
  2. Setelah diusahakan menghilangkan faktor predisposisi, dilakukan pengobatan medisinal
  • salap Whitfield
  • Larutan tiosulfat natrikus 20-25%
  • sulfur prepitatus–> losio kummerfeldi
  • haloprogin
  • tolnaftat dan tolsiklat
  • sampo selenium sulfida 2,5%
  • propilen glikol 50-100%
  • obat golongan imidazol, spt: mikonazol, isokonazol, tiokonazol, ketokonazol; bisa oral maupun topikal
  • Naftifin HCL
  • siklopiroksolamin

Sumber: Infestasi Jamur, Dr.Unandar Budimulya

Katanya bisa diobati dengan bawang putih atau jeruk nipis, juga belerang, itu untuk obat tradisionalnya… untuk mekanismenya mengapa bisa masih dicari tahuūüėČ

Pemeriksaan Histopatologi Kulit

Pemeriksaan Histopatologi merupakan pemeriksaan penunjang yang tidak kalah penting dengan pemeriksaan penunjang lain. Bahkan ada beberapa penyakit yang GoldStandarnya harus menggunakan pemeriksaan ini.

CARA PENGAMBILAN BAHAN DAN PEWARNAAN DALAM PX

  • untuk pemeriksaan ini dibutuhkan potongan jaringan yang didapat dengan cara biopsi dengan pisau atau plong/punch
  • Penyertaan kulit normal pada tumor kulit, penyakit infeksi, kulit normal tidak perlu diikutsertakan
  • Sedapat-dapatnya diusahakan agar lesi yang akan dibiopsi adalah lesi primer yang belum mengalami garukan atau infeksi sekunder
  • bila ada infeksi sekunder, sebaiknya diobati lebih dahulu
  • Pada penyakit yang mempunyai lesi yg beraneka macam/ banyak, lebih baik biopsi lebih dari satu
  • potongan jaringan sebisanya berbentuk elips + diikutsertakan jaringan subkutis
  • Jaringan yang telah dipotong dimasukan ke dalam larutan fiksasi, misanya formalin 10% atau formalin buffer, supaya menjadi keras dan sel-selnya mati
  • Lalu dikirm ke laboratorium
  • pewarnaan rutin yang biasa digunakan dalah Hematoksilin-Eosin(HE). Ada pula yang menggunakanperwarnaan oersein dan Giemsa.
  • Volume cairan fiksasi sebaiknya tidak kurang dari 20 X volume jaringan
  • Agar cairan fiksasi dapat dnegan abik masuk ke ajringan hendaknya tebal jaringan kira-kira 1/2 cm, kalau terlalu tebal dibelah dahulu sebelum dimasukkan ke dalam cairan fiksasi

Berikut Perubahan Histopatologi Yang Mungkin Muncul

Sumber: Ilmu Penyakti Kulit dan Kelamin, Edisi Ke 5, FKUI, 2007

   
Hiperkeratosis Penebalan stratum korneumKalau inti masih terlihat pada penebalan stratu korneum tsb disebut para-keratosis, bila tidak telrihat disebut orto-keratosis
Hiperplasia Epidermis yang menjadi lebih tebal, penambahan  jumlah  sel
Hipoplasia Epidermis yang menipis, jumlah sel berkurang
Hipertrofi Epidermis yang menebal, selnya bertambah besar
Atrofi Penipisan epidermis, selnya mengecil dan berkurang
Spongiosis Penimbunan cairan di antara sel-sel epidermis sehingga celah diantara sel meregang
Akantolisis Hilangnya daya kohesi antar sel-sel epidermis sehingga menyebabkan terbentuknya celah, cesikel, atau bula di epidermis
Sel diskeratotik Sel epidermis yang mengalami keratinisasi lebih awal
Nekrosis Kematian sel atau jaringan setempat
Fibrosis Jumlah kolagen bertambah

Istilah Kelainan Kulit

Menurut PRAKKEN (1996) yang disebut efloresensi(ruam) primer adalah : makula, papul, plak, urtikaria, nodus, nodulus, vesikel, bula, pustul, kista. Sedangkan yang dianggap sebagai efloresensi sekunder adalah skuama, krusta, erosi, ulkus, dan sikatriks.

Dibawah ini akan diberikan definisi berbagai kelainan kulit dan istilah-istilah yang berhubungan dengan kelainan tersebut:

Sumber: Ilmu Penyakti Kulit dan Kelamin, Edisi Ke 5, FKUI, 2007

   
Makula¬† Kelainan kulit, berbatas tegas, berupa perubahan warna (cth. purpura, petekie) 
Eritema¬† Kemerahan pada kulit, karena pelebaran pembuluh darah kalpiler, reversibel 
Urtikaria edema setempat yg timbul mendadak, dan hilang perlahan2
Vesikel gelembung berisi cairan(serum), beratap, berdasar, berukuran kurang dr 1/2 cm garis tengah
Pustul vesikel yang berisi nanah, kalau nanahnya mengendap dibgian bawah vesikel disebut “vesikel hipopion”
Bula vesikel yang berukuran lebih besar
Kista ruangan berdinding, berisi cairan, sel/sisa sel
Abses¬†¬† kumpulan nanah dalam jaringan , terbentuk dari infiltrat radang 
Papul¬† penonjolan diatas permukaan kulit, berisikan zat padat, diameter lebih kecil dari 1/2 cm 
Nodus¬† massa padat sirkumskrip, terletak di kutan/subkutan, dapat menonjol, kalau diameternya < dr 1 cm disebut nodulus 
Plak¬†¬† peninggian diatas permukaan kulit, permukaannya rat, berisi zat padat 
Tumor   = benjolan
Infiltrat tumor yang terdiri atas kumpulan sel
Vegetasi ¬† ¬† pertumbuhan berupa penonjolan yg bulat/runcing yg menjadi satu 
Sikatriks bekas luka
Erosi  kehilangan jaringan, tapi tidak melewati stratum basale
Ekskoriasi   kehilangan jaringan, lebih dalam lagi, mengenai ujung papil(stratum papilare), yang keluar bukan lagi serum tapi darah
Ulkus¬†¬† kehilangan jaringan, lebih dalam lagi, dia punya dinding, dasar, tepi, dan isi 
Skuama  lapisan stratum korneum  yang terlepas dari kulit
Krusta    cairan badan yang mengering
Likenifikasi penebalan kulit disertai relief kulit semakin jelas 
Eksantema   kelainan kulit yang timbul serentak dalam waktu singkat, sebentar, didahului demam
Telangiektasis pelebaran kapiler yang menetap di kulit 

Dermatitis Atopik

  • adalah keadaan peradangan kulit kronis dan residitif
  • sering terjadi pada masa bayi dan kanak-kanak
  • lebih banyak menyerang wanita
  • cenderung diturunkan
  • pada dasarnya terjadi melalui reaksi imunologik, ditandai dengan kenaikan kadar Ig E dalam serum pederita, dan penigkatan jumlah eosinofil.
  • Berhubungan dnegan alergi slauran napas
  • Th2 mningkat, Th1 menurn
  • Gejala klinis:
  1. kulit kering, pucat
  2. jari tangan teraba dingin
  3. Pruritus yang hilang timbul sepanjang hari, dominan malam hari
  4. pruritus menyebabkan gatal, sehingga bila digaruk akan muncul” krusta, eksudasi, ekskoriasi, erosi, eritema
  5. lipid epidermis berkulang, air hilang banyak–> kering
  • Gambaran Histopatologinya:
  1. Spongiosis
  2. edema
  3. hiperkeratosis
  4. akantosis
  5. eksositosis limfosit T
  • Saran: Pada penderita diharapkan menjauhi bahan iritan karena akan menyebabkan garukan dan pada bayi/anak supaya lebih dijaga kebersihannya
  • Terapi : bisa kortikosteroid, antihistamin, antiinfeksi (N.B. Untuk pemakaian kortikosteroid jangka panjang tidak dianjurkan karena mempunyai banyak efek samping yang buruk)

Staphylococcus aureus

MORFOLOGI

Staphylocossus aureus merupakan bakteri gram positif  pada pengecatan gram. Bentuknya kokus dan berukuran 0.8-1.0 mm dengan diameter 0.7-0.9 mikron. Bakteri ini tumbuh secara anaerobic fakultatif dengan membentuk kumpulan sel-sel yang bentuknya seperti buah anggru (Srikansi, F., 1993). Pada isolasi pertama kali dari kuman ini terlihat pembentukan pigmen kuning keemasan. Pigmen ini digolongkan sebagai lipokhrom(G.Bonang, E.S. Koeswardono 1979).

SIFAT BIAKAN

Staphylococcus aureus tumbuh dengan baik pada berbagai media bakteriologi dibawah suasana aerobic atau mikroaerofilik. Koloni akan tumbuh dnegan cepat pada temperature 37 derajat celcius namun pembentukan pigmen yang terbaik adalah pada temperature kamar (sekitar antara 20 sampai 35 derajat celcius). Koloni bakteri ini pada media padat akan berbentuk bulat, lembut, dan mengkilat.

Pada pembenihan cair menyebabkan kekeruhan yang tidak merata dan tidak membentuk pigmen. Pada nutrien agar, setelah diinkubasi selama 24 jam, koloni berpigmen kuning emas, ukuran 2-4 mm, bulat, sembung tepi rata. Pada agar darah atau media BAP sekeliling koloni akan terlihat zona beta hemolisa/ zona jernih yang lebar.

TOKSIN DAN ENZIM

Staphylococcus aureus dapat menimbulkan penyakit melalui kemampuan berkembangbiak dan menyebar luas dalam jaringan dan melalui pembentukan berbagai zat ekstraseluler. Beberapa zat ini adalah enzim. Sedangkan yang lain diduga toksin.

HEMOLISA : Staphylococcus aureus dapat dibedakan menjadi 3 jenis hemolisa yaitu alfa, beta, dan gamma. Semua hemolisa ini memiliki antigen yang berbeda. Hemolisa alfa menyebabkan hemolisis sel darah merah kelinci dan domba dengan cepat, ia penting pada patogenesis manusia(Julius E.E. 1990)

KOAGULASE : Staphylococcus aureus menghasilkan koagulase suatu protein yang mirip enzim yang dapat menggumpalkan plasma yang telah diberi oksalat atau sitrat dengan bantuan suatu faktor yang terdapat dalam banyak serum. Faktor serum bereaksi dnegan koagulase untuk menghasilkan enterase dan menyebabkan aktifitas pembekuan. Koagulase dapat mengendapkan fibrin pada pemrukaan Staphylococcus. Bakteri ini membentuk koagulase positif dan dianggap mempunyai potensi invasif.

KATALASE: Staphylococcus menghasilkan katales yang mengubah hydrogen peroksida(h2o2) menjadi air dan oksigen. Tes katalase membedakan Staphylococcus posistif dari Streptococcus yang negatif.

PATOGENESIS

Staphylococcus aureus merupakan penyebab terjadinya infeksi yang bersifat piogenik. Bakteri ini dapat masuk ke dalam kulit melalui folikel-folikel rambut, muara kelenjar keringat, dan luka-luka kecil. Bakteri ini mempunyai sifat dapat menghemolisa eritrosit, memecah manitol menjadi asam. Bakteri ini dapat menyebabkan gangguan kesehatan pada manusia karena dapat menghasilkan toksin slaah satunya adlaah enterotoksin dan beberapa enzim ekstraseluler yang terdiri dari hemolisa, leukosidin toksin neukrosa kulit.

Enterotoksin adalah toksin yang bekerja pada saluran pencernaaan yang dapat menyebabkan keracunan makanan dengan gejala seperti mual, muntah, kejang perut, dan diare. Bersifat tahan panas dan resisten terhadap enzim pepsin dan tripsin. Gejala keracunan makanan karena entrotoksin ini mempunyai masa inkubasi pendek antara 1-8 jam setelah mengkonsumsi makanan yang tercemar enterotoksin oleh S. aureus.

sumber: unimus

GCS

GCS atau Glassglow Coma Scala==> adalah skala yang digunakan untuk mengukur penurunan kesadaran seseorang

Tabel GCS; Cara pengukuran: E+V+M= Total

Trauma Kapitis

Seorang perempuan 17 tahun dirawat inap di bangsal saraf dengan gangguan kesadaran karena kecelakaan lalu lintas satu hari yang lalu. Dari alloanamnesa didapatkan saat kejadian pasien masih sadar. Dalam perjalanan ke rumah sakit pasien mengeluh nyeri kepala dan muntah beberapa kali sebelum pingsan. Setelah dilakukan pemeriksaan didapatkan:

  • Hasil pemeriksaan neurologis : nilai GCS semakin turun.
  • Vital Sign : T, N, RR dalam batas normal, tapi temperatur 37,4 derajat celcius
  • Px fisik : Echymosis periorbital bilateral, Battle’s sign bilateral, epitaksis dan otorrhea disangkal

HASIL ANALISA!!!

Nyeri kepala dan muntah ==> menandakan adanya kenaikan tekanan intrakranial (TIK)

Pingsan ==> adanya gangguan kesadaran

GCS turun ==> adanya gangguan kesadaran

Temperatur 37, 4 ==> demam

Echymosis periorbital, Battle’s sign bilateral, epitaksis, otorrhea ==> merupakan tanda adanya fraktur basis cranii

DAFTAR KATA SULIT!!!

Alloanamnesa: anamnesa (proses tanya-jawab pasien-dokter) dengan posisi pasien digantikan oleh orang lain/ keluarganya, karena pasien sedang tidak sadar

GCS: Glassglow Coma Scale: adalah skala yang digunakan untuk menentukan derajat kesadaran pasien

Echymosis periorbital: = mata panda= memar mata; peri-orbital==> disekitar/disekeliling mata; sedangkan Echymosis adalah hal yang terjadi bila darah lolos dari pembuluh darah menuju ke jaringan disekitarnya

Battle’s sign bilateral: memar di belakang telinga, dibawah os mastoid

Epitaksis: mimisan, darah keluar dari hidung

Otorrhea: LCS keluar lewat telinga/ ada kebocoran LCS        X           Rhinorrhoe ( liquor keluar dari hidung)

Fraktur: Patah pada tulang

Basis Cranii: Dasar tulang tengkorak

TIK: Tekanan IntraKranial: adalah tekanan yang berada didalam cranium/ kepala/ tengkorak

Battle’s Sign

Echymosis periorbital = mata panda = memar mata

Basis Cranii = dasar tengkorak

HAL YANG PERLU DIBAHAS MENGENAI KASUS INI/ TEORI!!!

1. GCS

2. TIK

3. FRAKTUR BASIS CRANII

4. BAGIAN CRANIUM + LAPISAN CRANIUM

5.  PUSAT KESADARAN

6. TRAUMA KEPALA

< insyaallah akan disediakan di post berikutnya ^O^ >

Sumber: Banyak dan insyaallah terpercaya… hehehe